Logo SantriDigital

menjaga sholat 5 waktu

Khutbah Jumat
F
Fikri Muhammad
8 Mei 2026 3 menit baca 2 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Pada hari yang penuh berkah ini, mimbar Jum’at kembali memanggil hati kita, menyentuh relung jiwa yang mungkin telah lama tertidur. Hari ini, khatib ingin mengajak segenap jamaah sekalian untuk merenung, mendalami kembali, sebuah tiang agama yang tanpanya Islam akan runtuh, sebuah ibadah yang menjadi kunci peradaban ruhani kita: Sholat lima waktu. Sholat, saudara-saudaraku, bukanlah sekadar gerakan fisik. Ia adalah sebuah perjanjian khusyuk antara seorang hamba dengan Penciptanya. Ia adalah denyut nadi keimanan yang memancar, cahaya yang menerangi kegelapan hati, dan jembatan yang menghubungkan kita dengan Ar-Rahman, Ar-Rahim. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا “Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang beriman.” (QS. An-Nisa: 103) Ayat ini tak sekadar mengingatkan akan waktu pelaksanaannya, namun juga mengisyaratkan sebuah janji yang kokoh, sebuah kewajiban yang tak dapat ditawar. Sholat adalah napas kehidupan seorang mukmin. Tanpanya, hari-hari kita akan terasa hampa, langkah kita tak bermakna, dan hati kita diliputi kegelisahan yang tak berujung. Ia adalah benteng pertahanan kita dari lembah dosa dan jurang kehinaan. Pernahkah kita merasakan betapa beratnya langkah saat menuju sholat, padahal waktu luang begitu melimpah? Pernahkah kita membiarkan panggilan Allah tertunda demi urusan dunia yang fana? Jika ya, maka marilah kita renungi firman-Nya yang lain, yang menggarisbawahi betapa meruginya mereka yang lalai: فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ “Maka celakalah orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5) Lalai dari sholat, bisa bermakna menunda-nunda hingga habis waktunya, bisa bermakna mengerjakannya tanpa kekhusyukan, tanpa memikirkan keagungan-Nya, hanya sekadar menggugurkan kewajiban. Ini adalah peringatan keras yang seharusnya menghunjam kalbu. Bayangkanlah, wahai saudara-saudaraku, betapa indahnya ketika azan berkumandang, seolah memanggil kita dari hiruk pikuk dunia menuju ketenangan ilahi. Betapa leganya hati ini ketika kita berdiri di hadapan Allah, menyandarkan seluruh problema hidup, memohon pertolongan, keridhaan, dan ampunan. Sholat adalah kesempatan emas untuk membasuh diri dari dosa-dosa yang menumpuk. Setiap ruku’ adalah pengakuan kelemahan kita, setiap sujud adalah penyerahan diri total kepada-Nya. Pernahkah kita membayangkan ketika ruh kita terlepas dari raga, dan Allah bertanya tentang amalan pertama yang kita pertanggungjawabkan? Tentu saja, itu adalah Sholat. Jika sholat kita baik, maka amalan lainnya pun akan dimudahkan. Namun, jika sholat kita berantakan, bagaimana nasib amalan-amalan kita yang lain? Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Menjaga sholat berarti menjaga waktu-waktunya, mengerjakannya dengan penuh kesadaran dan kekhusyukan. Bukan sekadar gerakan, tapi perjumpaan ruhani. Bukan sekadar kewajiban, tapi sebuah kerinduan. Marilah kita bangkit dari kelalaian, merajut kembali benang-benang kekhusyukan dalam setiap rakaat. Jadikanlah sholat sebagai penyejuk mata, penenang jiwa, dan bekal terindah menuju perjumpaan dengan Sang Pencipta. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →